Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

HANYUT



Hujan bulan Juni menelan percakapan kita yang keki.
Di sudut ruang, hujan rembes bersama gigil. Kaca jendela lebih terkatup, mungkinkan jantungmu semakin letup? Atau mungkin kau lebih takut perciknya masuk saja.

Kau menceritakan kelumit kisahmu, tapi aku sibuk mengutip senyummu. Lalu aku luruh di dalamnya. Aku sepertinya bukan pendengar yang baik untuk kau titipkan cerita.

Aku ingin angin menutup kosongnya ruang itu. Sehingga kita bisa lebih rapat. Aku ingin kita menyadari jika hujan sebenarnya hangat, jika kita saling hanyut.


Yogyakarta, 11 September 2018.

Sajak Seorang Pemimpi



(Source: Pinterest)

1. Telah ia relakan ibadahnya demi menyudahi mimpi.
    Dalam mimpinya, Tuhan tertidur.
    Sehingga ia menarik sarung.
    Bukan untuk bersujud, tetapi untuk melanjutkan jingkrung hingga gigil pagi tak terasa lagi.
    Ia tak bisa mencintai dalam kegelapan, Ia tak bisa memuja paras-Nya.
    Cinta tak mengalir seingin sungai bersua laut.

2. Seorang pemimpi terlelap dalam tidurnya.
    Di mimpinya ia melihat sebuah nisan
    di sana terkubur cita-cita masa kecilnya -
    yang padam karena meluluskan permintaan ibu 
    ketika masih tinggal di bangsal isolasi.

3. Pada sebuah arloji usang, detiknya mengarah pada angka lima
    tapi senja telah berlalu, dan lampu taman mulai nyala.
    Ia tahu arloji itu bukan penunjuk waktu yang benar
    Jarumnya sudah tua dan payah.
    Sungguh…Ia pria urban yang tidak mencintai gaya hidup kota.
    Tetapi baginya ini adalah waktu yang paling purna untuk mendengkur.
    Semata untuk mengisi kekosongan,
    karena tak ada apa-apa di meja makan.


Maguwoharjo, 23 Agustus 2017.

Bocah Ilalang

(Source: Pinterest)


Nenekku petani, dan aku cucu yang menjual ladangnya
Semestinya kita bermain-main di antara ilalang itu lagi, teman.
Tetapi ilalang kini telah tumbuh menjadi gedung seribu jendela
Dan kita bocah yang kehilangan tempat bermain.

Semestinya angin mendinginkan ketiak langit,
Mengukir cinta masa kecil pada pohon yang entah akarnya kini menancap di mana
padamu bocah kecil yang tak pernah lagi kedengaran kabarnya
aku rindu bermain di ladang itu
atau menyaksikan parade balon di udara yang terlepas dari genggaman bocah lain
aku tahu kau pun merindukanku, karena kita memang selalu se-cermin itu.